Minggu, 05 Desember 2010

Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa
(Integrated Organic Farming on Swampland)
Community Development (COMDEV)
Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE)
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

HISTORIS
Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa merupakan perwujudan dari kegiatan Community Development dari Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) Project Universitas Lambung Mangkurat (Unlam).  Unit ini berada dalam wilayah Desa Tinggiran II Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala dengan letak geografis antara 114°32'30.50"BT dan 3°17'46.10"LS; 114°32'33.70"BT dan 3°17'43.60"LS; 114°32'34.10"BT LS dan 3°17'48.60"LS; serta 114°32'38.40"BT dan 3°17'48.50"LS, berjarak ± 5 km dari kota Banjarmasin dan dapat dicapai kurang lebih 15 menit dengan menggunakan transportasi air.   

Peta lokasi

Pada awalnya, unit ini berupa lahan sawah yang tidak digarap lebih dari 5 tahun.  Sejak menjadi hal milik Unlam, Tim menghimpun berbagai mengenai data kemiringan lahan, sifat-sifat tanah, kualitas air dan pola pasang surut serta data sosial, ekonomi dan budaya. Berdasarkan data yang tersedia, dibuat lay-out unit pertanian organik terpadu pada lahan seluas 2,2 Ha. Komoditas yang diaplikasikan disesuaikan dengan daya dukung lahan dan prospek pemasaran.

Gambar Layout Unit

Pekerjaan pertama adalah pembuatan saluran dan pintu air, kolam ikan dan perbaikan pematang sawah yang dimulai pada awal bulan November 2008.  Pada bulan yang sama semua pematang ditanami jeruk Siam.  Pembangunan  fasilitas lainnnya berupa bangunan kantor/rumah, kandang itik, kandang sapi, pabrik pakan mini dan instalasi biogas dimulai bulan Februari 2009.  Bulan April 2009 dilakukan penebaran benih udang Galah, ikan patin, ikan Betok dan ikan gabus. Selain itu juga dilakukan pengadaan itik petelur dara dan sapi bakalan.  Pada tanggal 15 Juli 2009, Rektor Unlam dan Bupati Kabupaten Barito Kuala meresmikan unit ini sebagai Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa.
Sejalan dengan keinginan menjadikan unit ini sebagai prototipe pertanian organik terpadu lahan rawa, maka pada tahun 2010 dibangun fasilitas tambahan. Dengan demikian Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Baik berfungsi sebagai pusat pengembangan dan penyebaran IPTEK pertanian organik terpadu lahan rawa maupun sebagai salah satu unit usaha Universitas Lambung Mangkurat.


KONSEPSI
Pertanian terpadu pada hakekatnya merupakan pertanian yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya sehingga aliran nutrien dan energi terjadi secara seimbang.  Keseimbangan ini akan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan keberlanjutan sehingga produksi terjaga secara efektif dan efisien.  Oleh karena itu lahan rawa yang tergolong memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan keasaman tinggi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Memperhatikan berkembangnya tuntutan akan makanan sehat (healthy foods) dan sekaligus mencegah peningkatan pencemaran lingkungan dan pemanasan global maka pertanian terpadu tersebut dikembangkan menjadi Pertanian Organik Terpadu dengan konsep sebagai berikut:


TUJUAN
Pembangunan Unit Pertanian Organik Lahan Rawa ditujukan untuk:
1)    Meningkatkan produktivitas lahan lawa
2)    Membina masyarakat agar dapat meningkatkan sumber pendapatan masyarakat
3)    Mengembangkan dan menyebarkan informasi pertanian organik lahan rawa
a)    Pelatihan
b)    Bimbingan
4)    Mendorong peningkatan produksi makanan sehat
5)    Mendorong pengendalian pemakaian bahan beracun
6)    Membangun unit usaha sebagai salah satu sumber pendapatan institusi
FASILITAS UNIT PERTANIAN ORGANIK TERPADU LAHAN RAWA
Unit Pertanian Organik Lahan Rawa terletak di Desa Tinggiran II Luar Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala. Fasilitas yang dibangun pada lahan seluas 2,2 ha adalah:
a.       Kolam Ikan: sebanyak 5 buah digunakan untuk:
1)      Monokultur  ikan Patin (Pangasius pangasius), ikan Gabus (Channa striata), ikan Nila (Oreochromis niloticus)
2)      Polikutur ikan Patin (Pangasius pangasius) dan ikan Nila (Oreochromis niloticus)
3)      Kolam bersama ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) dalam hapa
b.      Kolam Saluran: khusus untuk pemeliharaan udang Galah.
c.       Mina-Padi: sawah seluas 1 ha (terdiri atas 3 petakan) yang digunakan untuk menanam padi dengan pupuk dan pestisida organik serta dikombinasikan dengan ikan Gabus, ikan Betok maupun ikan Nila.
d.      Mina-Unggas-padi-jeruk:   itik petelur yang dirangkai dengan 3 buah kolam dan satu petakan sawah. Masing-masing kolam ditebarkan ikan Betok, ikan Nila dan ikan Gabus (atau ikan Patin).  Sawah ditanami padi dengan sistem organik.
e.      Kandang dan itik petelur: untuk mempro kapasitas penggemukan 10 ekor sapi potong.
f.        Mini Feedmill: untuk produksi pakan ikan dan itik petelur dengan kapasitas 1 ton per hari.
g.       Budidaya komoditas pertanian: jeruk Siam, hortikultur dan palawija ditanam di pematang kolam maupun sawah. Tanaman diberi pupuk dan pestisida organik dan pestisida. Tanaman disiram dengan air kolam yang juga merupakan sumber nutrien.
h.      Instalasi biogas: untuk produksi gas serta penyedia bahan baku pupuk organik padat. Gas digunakan untuk keperluan memasak dan penerangan. Pupuk organik digunakan untuk keperluan sendiri, baik untuk tanaman maupun kolam.
i.         Pembuatan pupuk dan pestisida organik.

TEKNOLOGI YANG TELAH DIKEMBANGKAN
Dari fasilitas yang telah dimiliki tersebut telah dihasilkan dan didiseminasikan beberapa teknologi yang bersifat teruji dan mendukung kegiatan usaha pertanian terpadu lahan rawa.  Diantaranya adalah :
a.       Mina-unggas-padi-jeruk, dimana input energi hanya pada ternak (itik petelur Alabio) (100%) dan untuk ikan Gabus atau ikan Patin atau (50 - 75%). Ikan Betok dan ikan Nila memperoleh energi dari sisa pakan itik dan mikro/makroorganisme yang tumbuh dibawah kandang itik. Sedangkan jeruk Siam memperoleh energi dari air kolam yang banyak mengandung nutrien.
b.      Budidaya udang Galah dalam hapa: pemeliharaan udang Galah di lahan rawa (dengan predator yang banyak dan sulit dikontrol) sangat baik baik dilakukan dalam hapa.  Ukuran hapa 3 x 2 x 1 meter atau 4 x 1 x 1 meter dengan padat  penebaran 30 ekor/meter untuk benih ukuran 6 – 8 gram/ekor. Agar udang Galah dapat berlindung (terutama pada saat molting), ke dalam hapa dimasukkan Eceng gondok (Eichornia crassipes) dengan penutupan <75% dari luas permukaan.


c.       Budidaya jeruk Siam 
·         Pertumbuhan jeruk Siam yang diberi pupuk organik dan disiram dengan air kolam ikan 2 kali lebih cepat dibanding yang yang diberi pupuk kimia dan disiram dengan air non-kolam ikan. Dalam 1 tahun tinggi jeruk Siam yang ditanam di Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa sudah mencapai 2 meter lebih.
·         Pada musim kemarau, jeruk Siam yang diberi pupuk organik tidak perlu disiram setiap hari. Penyiraman setiap 3 hari sudah cukup memberikan kelembaban agar jeruk tidak kekeringan. Kalau menggunakanpupuk kimia penyiraman harus setiap hari.
d.      Pengembangan formula pakan ikan dan ternak dari bahan lokal.  Tepung ikan dan kepala udang sebagai sumber protein hewani diperoleh dari nelayan yang berada sekitar 20 km dari lokasi.  Nelayan dibina untuk membuat ikan kering tanpa garam. Karena garam berlebih menghambat pertumbuhan ikan dan produksi telur itik. Produksi telur itik akan turun sekitar 30% jika terdapat garam pada pakan maupun air minum.
e.      Pengembangan dan produksi pupuk organik berbasis kotoran sapi dan itik serta produksi pestisida organik berbasis bahan alam.  Untuk menjaga agar lingkungan Unit Pertanian Organik Terpadu Lahan Rawa ridak terkontaminasi pupuk dan pestisida non organik, maka kotoran sapi dan itik digunakan sebagai bahan pembuat pupuk. Sedangkan untuk memberantas hama dan penyakit digunakan rebusan daun nimba.
f.        Pengembangan biogas sebagai sumber energi untuk memasak dan penerangan. Dengan digester berukuran 6,0 M3, gas yang dihasilkan cukup untuk memasak setiap hari dan jika jumlah sapi mencapai kapasitas tampung akan mampu menghidupkan genset 1000 watt.

KERJASAMA DENGAN INSTITUSI/PERUSAHAAN YANG TELAH DILAKUKAN

1)    CSR PT. FREEPORT INDONESIA, lokasi di TIMIKA, PAPUA
2)    CSR BANK MANDIRI WILAYAH IX BANJARMASIN, lokasi di KAB. BARITO KUALA, KALSEL
3)    CSR PT. EXXON MOBILE, lokasi di MARABAHAN, KAB. BARITO KUALA, KALSEL (masih penjajakan)
4)    CSR PT. INDOCEMENT Tbk., lokasi di TARJUN, KAB. KOTABARU, KALSEL (masih penjajakan)

1 komentar:

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) sejak tahun 2005 adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita, yaitu:
    BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB LENGKAP AVRON / SO” + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+ ).
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    Semoga Indonesia sehat canangan Kementerian Kesehatan dapat segera tercapai.
    Terimakasih,
    Omyosa -- Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

    BalasHapus